Kamis, 11 Juli 2024

Berbakti kepada orangtua.


Islam mengajarkan bahwa berbakti kepada orang tua adalaha amal yang tinggi. Hormat ddan berbaktilah pada orangtuamu, walau mereka musrikin, walau orangtuamu memperlakukanmu dengan tidak baik/dhalim.

Kalau ada kotbah seperti ini pasti aku males...

Nampaknya disitulah tombol merahku sebagai manusia. Hubungan yang tidak sehat sebagai anak dan bapak, ini sangat menggoreskan luka yang dalam. Bahkan kematian tetanggaku, seorang tukang yang sering membantu meperbaiki rumahku, LEBIH MENYEDIHKAN HATIKU DARIPADA KEMATIAN AYAHKU SENDIRI.

Di situlah aku merasa buruk di hadapan Allah SWT.

Pada saat hari kematian Ayahku yang kurasakan:

  • Lega, sang monster yang suka meneror masa kecilku sudah pergi
  • Bersyukur, bahwasanya di akhir kematiannya suul khotimah (dlm kondisi musrik)
  • Numb, ga ada perasaan sedih sedikitpun. Bahkan melihat ibuku yang sedih pun aku tdk sedih.
Faktanya kebencian nampaknya mengakar kuat, masih sering sakit hati bila ingat masa lalu. Sesuatu yang bertentangan dengan ajaran agamaku.

Jadi nampaknya rasa marah itu tetap akan kubawa sampai aku mati.


Sabtu, 27 November 2021

Nyangkut

Beberapa minggu terakhir ini aku dan istri terasa lelah. Bukan karena banyak kerjaan, proyek dsj, tapi capek hati.

Ceritanya kita dapat warisan cash hasil penjualan rumah. Kita berpendapat uang cash akan turun nilainya, dan property adalah cara investasi yg terbaik.

 Dan kita mulai search rumah di sekitar kita, selain pengen yg dekat, juga lingkungannya baik. Apalagi dari web jual beli rumah, sekarang harga lagi pada turun.
Kita sdh 3x ketemu seller yg rumahnya kita taksir, dan semuanya gagal karena hal yang sama, yaitu Suratnya nyangkut di bank.

Kita sangat menghindari hal yg kayak gini, karena seller meminta uang cash tebusan dulu di depan kepada buyer. Bagi kita buyer itu sangat tidak aman. Kami melihat transaksi teraman itu selayaknya beli mobil bekas, cash and carry. Surat dapat mobil langsung dapat, yah kayak gitu lah seharusnya jual beli rumah.

Sellernya juga banyak yg ngotot dan aneh aneh. Saya paham mereka dalam kesulitan karena dikejar tagihan hutang, tapi ya gagini juga caranya.
Ada yg minta 300 juta di depan, 100, 75 juta dan nantinya dibikinin kwitansi. What, kwitansi? Emang gw nenek lo.

Secara legal menjual property yang diagunkan itu melanggar hukum lho. Paham gak sih. Sedangkan bank minta agunan, lha kita mesti di depan ngutangin buat nebus tanpa agunan he he he. Dan kebanyakan nggak ngaku di awal kalo sertifikat rumahnya lagi disekolahin. Ngertinya begitu udh deal harga, trus tiba tiba minta cash di depan. Kita biasanya minta transaksi ppjb di depan notaris, klo mereka mau sebagian cash di depan, umumnya mereka nolak karena tidak bisa memenuhi kewajiban melampirkan sertifikat asli. Lha kan masih nyangkut. Jadi muter muter kaya benang ruwet.

Jadi aku anggap belum rejekinya.

 Rumah yg sekarang aku tempatin juga gitu sbtlnya, sertifikat nyangkut. Cuma seller cepat cepat melunasi di bank bgtu kita buyer ngambek krn ternyata sertifikat nyangkut. Happy ending transaksinya.

Mungkin sekarang lagi krisis ekonomi krn covid, jd bnyk yg terpaksa nyekolahin sertifikat rumah. Terbayang bank lagi penuh dgn sertifikat sbg agunan.

Beli rumah baru dari developer jg bukan opsi yg kita suka. Yah tahu sendiri developer itu gimana. Aku juga pernah bertahun kerja di developer, he he he.

Ternyata urusan nyangkut sertifikat ini bikin lelah banget. Krn bnyk seller yg gak jujur, mbelit, nutup nutupin bahkan ada yg cenderung mau tricky pada seller.

Terpaksa seharian gak masak, chore terbengkalai, urusan beres beres rumah jadi ikut nyangkut.

Salam nyangkut dari bogor.

November 2021

Kamis, 02 April 2020

Covid dan hati yg lupa mati

Kantor laksana kapal yg oleng terseok seok, dan nyaris tenggelam. Bukan karena siapa siapa tapi memang kebodohan manusia yang tidak mau mengikuti perubahan,seperti dinosaurus. Akhirnya punah.
Dan badai ditambah dengan pandemi, work from home dll.
Jujur, ciut nyaliku dgn pandemi ini. Belum siap ninggalin istri anak. Belum siap ninggalain anak.Tapi apakah kematia menunggu siap. Bahkan sering datang tiba tiba. Setiap yg bernafas pasti mati. Pff...
Pandemi ini memaksaku memahami dan mengimani firmanNya. Ternyata selama ini aku hanya hafal tanpa mengimani. Memaksa untuk melakukan ijtihad atas banyak hal. Memaksa manusia untuk menyadari bahwa akhirnya kita akan sendirian. Mati sendiri. Bahkan ngubur aja susah. Jamaah bubrah. Merekonstruksi dogma agama yg selama ini terpatri. Dan menyadari betapa gagapnya ilmu agama yg kupahami untuk hadapi pandemi. Intinya kita memang lupa mati.
Mati memang inti dari agama itu sendiri, dan aku ternyata belum mengimani. Maafin aku ya Allah...

Senin, 16 Desember 2019

Heaven

Apakah surga itu istriku?
Aku bertanya padamu.
Tempat dimana kita bersama, tiada khawatir dan duka cita
itu jawabmu

Apakah bahagia itu istriku?
Saat dimana kita bertiga  bersama
Saat kamu bebas dari evilmu
Saat kamu merasa bebas dari sakitmu

Apakah tempat yang paling indah, istriku?
Tempat yang hanya kita tahu
Jauh dari mereka semua
dan kita bergandengan tangan, bercanda bersama - itu jawabmu

Apakah kamu bahagia istriku?
Aku selalu berbahagia bersamamu.
Luka yang dulu aku sudah lupa
Sakit yang lalu sudah tiada

Semua jawabmu selalu tentangku
Tentang anak kita
Tentang keluarga kita
Lalu bagaimana dengan dirimu.

Pantas surga memang milik istri
yang telah menjadi ibu
dan meniadakan dirinya
di sini , ya disini.


Jakarta, 17 December 2019




Minggu, 15 Desember 2019

GUOBLOKE POLL

Gubloke Poll!! Yah, itu kata-kata yang dulu sering aku ucapkan sambil bercanda kala ngajar teman matematika atau fisika jaman sekolah dulu. Aku sih tahu, temanku kadang rada sakit hati, tapi ya gimana, mereka mengakui bahwa cara menerangkan ku adalah yang paling mudah dipahami.

Jaman SMA dulu, aku bisa ngajari teman dalam waktu 1-2  jam untu pelajaran fisika dan math, sehingga teman yang paling guoblok pun, yang biasanya nilainya 1 sd 4 bisa meraih nilai 8. Tapi ya itu kekuranganku, kalau ngeledek or misuh kadang kebangetan, walau sambil ketawa dan bercanda.

Rata-rata aku paham bahwa teman-temanku sebetulnya tidak goblok sih, cerdas lah, cuma mereka punya habit yang membuat jadi sebuah karakter yang berakibat jadi gagal dalam pelajaran terutama matematika dan fisika. Nah, aku membongkar ini, dan setelah kebongkar mereka akan merasakan bahwa soal soal fisika dan math SMA tersebut gak sulit kok.

Tapi itu 35 tahun yang lalu........:)

Dan sekarang di usia yang mencapai hampir 50 tahun, aku mencoba kuliah lagi. Jurusan yang kuambil berbeda jauh dengan major ku, yaitu IT. alias coding2 gitu.

Dulu memang pernah belajar coding : FORTRAN, BASIC itupun prosedural, dan mentok di buble sort. Ambyar kan. Dulu menguasai logic bubble sort udah merasa programmer banget..wkwkwk

Dan kini aku mempelajari C++ OOP. Matek aku....jauh banget dari yang aku dulu tahu.....
Mau tanya tanya anakku yang masih kuliah, doi lagi kost dan supersibuk. Tanya teman yang lulusan kampus antah berantah, jurusan IT jawabannya sama: UDAH LUPA PAK. Aku sangsi dia lupa, mungkin juga memang gak pernah paham, mungkin juga ijazahnya bikin dari photoshop...ha..ha..ha..

Setelah melewati beberapa bulan, aku merasa mampet. Asli, otak tua itu memang bolot banget. Tapi, bukanya aku masih bisa berpikir jernih, logic kalau menyelesaikan kerjaan? Mestinya tua jangan jadikan alasan.
Ternyata aku tahu jawabannya : AKU MELAKUKAN HAL YANG SAMA DENGAN TEMAN TEMAN SMA DULU YANG BOLOT YANG DULU SUKA AKU MAKI : GUBLOKE POL.....

Apa itu, Kebiasaan apa itu yang membuat otakku menjadi bolot?
1. Tidak tekun belajar. Belajar 10 menit, brwsing, 10 menit, jalan-jalan
2. Buru-buru ingin mencapai paham tanpa mau memahami konsep fundamental
3. Ingin cepat menyelesaikan soal, dipikir makin rajin latihan soal makin paham. Padahal tidak
4. Target yang dipakai waktu. misalnya : perhari dapat 2 bab, per jam 5 halaman. Padahal yang penting itu paham. Lebih baik lambat tapi paham.

Demikianlah. Kali ini aku akan mencoba mengkoreksi cara belajarku. Dan hari ini aku akan berdiri di depan cermin, menatap wajahku sendiri, sambil mengatakan : GUOBLOKE POLL !!!

Jakarta 16/12/2019



Kamis, 12 Desember 2019

Mood Booster HARI INI

Hari ini terasa lelah, bolak balik 120 km dan 5 jam perjalanan setiap hari. Kebetulan sampai kantor kepagian, masih sepi. Biasanya saya manfaatkan kadang ngaji, meditasi, ataupun sekedar nonton youtube sekedar refreshing.

Tapi pagi ini waktu ingin membuka video2 meditasi di youtube, pindah ke salah satu video musik yang membuatku merasakan jatuh cinta yang kurasakan 26 tahun yang lalu. Sambil memejamkan mata, dan mengingat rasa yang mungkin sudah lama terlupakan.

BE STILL MY HEART, LATELY, ITS MIND IS ON ITS OWN
IT WOULD GO FAR AND WIDE, JUST TO BE NEAR YOU

Sebuah perasaan yang jatuh cinta yang indah, saat dimana berdekatan denganmu membuatku menemukan rasa damai dan nyaman.....

Aku mengingat lagu ini terasa sangat mengiris hatiku saat aku KKN, dan berjauhan denganmu. Ada rasa rindu, tapi merasa tak pantas karena waktu itu kamu hanya sahabatku. Dan bertanya-tanya adakah engkau merasakan yang aku rasakan?


ANYONE WHO'S SEEN US
KNOWS WHAT'S GOING ON BETWEEN US
IT DOESN'T TAKE A GENIUS TO READ BETWEEN THE LINES
AND ITS NOT JUST WISHFULL THINKING
OR ONLY ME WHO'S DREAMING
I KNOW WHAT THESE ARE SYMPTOMPS OF
WE COULD BE IN LOVE

Ya, we could be in love. It doesn't take a genius to read between the line.  Kadang ada saatnya waktu itu aku merasa bahwa kamu juga punya rasa yang sama. "Line" itu memang ada. Namun terkadang rasa pesimis itu datang, mungkinkah itu hanya perasaanku, G R ku(bukan GnR) ?. or only me who's dreaming?

Dan sekarang kami sudah saling memiliki. Kadang masih tidak percaya bahwa kita akan bersama seperti ini. Namun kala rasa murka menerpa kadang seakan lupa bahwa perasaan galau, rindu yang menggelisahkan ini pernah singgah di hatiku 26 tahun yang lalu.

Dan lagu ini jadi meditasi pagi ini, sambil memekarkan cakra jantung pusat kasih sayang dan kebahagiaan........



Jakarta 13 Desember 2019




We could be in Love - Lea Salonga & Bread Kane, courtessy of Youtube


Rabu, 11 Desember 2019

ME AND MY MENTAL ILLNESS #7 Sosmed Pisau bermata dua

Sebagai seorang Bipolar, internet bisa dikatakan sebagai sumber informasinya. Hampir mustahil menemukan informasi tentang Bipolar yang komprehensif di seminar, toko buku dll. Seandainya ada pun, jalan masuknya melalui internet.

Demikian juga dengan saya, mencari informasi sekaligus mencari teman atau komunitas yang mempunyai masalah yang sama dengan saya. Di salah satu sosmed, ada komunitas bipolar dan saya pun bergabung di dalamnya, kurang lebih 3 bulan. Sekarang, saya sudah merasa cukup, atas informasi tersebut, dan menonaktifkan sosmed tersebut.

Berikut perjalanan saya dan kesan menggunakan sosmed sebagai seorang ODB.


  1. Kesan pertama : senang
  2. Kesan kedua : iba dan ingin membantu
  3. Kesan berikutnya : kagum pada beberapa orang yang sukses
  4. Kesan berikutnya : sedikit muak
  5. Kesan terakhir : Cukup di sini. Deaktivasi sosmed, keluar dari keanggotaan.

1. Kesan Pertama : senang. Ya, senang karena ternyata saya tidak sendirian. Dari keluhan-keluhan yang ada, banyak yang menyerupai saya. Jadi berbesar hati, karena yang saya jalani ternyata tidak parah-parah amat. 

2. Kesan kedua : iba dan ingin membantu. Bagaimana tidak iba, keluhan rata-rata ingin bunuh diri, ingin mati, disiksa keluarga. Dihina suami, ditinggalkan istri. Dipecat dari kantor. Serasa ingin membantu , minimal memberi saran, menguatkan dan memberi semangat. Setelah memberi semangat dsj, ada rasa sedikit bangga karena telah berbuat baik. Yang akhirnya aku sadari  itu absurd banget ha  ha ha  ....

3. Kesan berikutnya : kagum pada beberapa orang yang sukses. Ya kagum, karena bisa menjalani kestabilan dengan bagus, tanpa obat, bisa produktif. Mulailah satu demi satu aku DM, sekedar tukar pikiran atau meminta saran. Bagus-bagus sih sarannya. Namun, ternyata banyak yang dari mereka sendiri, setelah aku lihat , sebetulnya belum "beres" juga. Ada orang yang history nya, me "like" postingannya sendiri, sampai puluhan/ratusan. Ada yang mengklaim bebas obat, tapi postingan tumblr nya isinya obat-obat psikotik. Ada yang memberi saran, konsep dsj, tapi ternyata statusnya useless di rumah dsj. Intinya banyak juga yg sebetulnya belum level "stabil" tapi melakukan self proclaimed demi mendapatkan simpati dan kekaguman.
Ya sebetulnya sah-sah saja, namanya juga dunia sosmed, kamu bisa menjadi siapa saja. Yang aku ambil benang merahnya adalah bahwa ODB sebagian memang punya sedikit "kekurangan" yaitu jiwanya sepi sehingga suka mencari perhatian. Maaf, bukan ngejudge, ini penilaian pribadi.

4. Kesan berikutnya; sedikit muak. Sedikit ya, karena nggak muak muak amat. Ada yang ngeluh ini itu, yg sebetulnya solusinya simple, mereka menolak solusi apapun dan memilih menjadi victim selamanya, bahkan menikmatinya. Ya mereka menikmatinya. Ada yg hanya butuh dikagumi, tapi begitu orang lain berada pada posisi lebih stabil, mereka langsung menghindari. Memang bipolar ini anjing banget, apalagi kalau mood swing itu membadai. Tapi, tidak harus semua kebodohan, kemalasan, ketidakmampuan kita , trus dikaitkan karena bipolar. Bisa jadi memang kita lebay, tanpa BD kita lebay. Tanpa BD pun kita bodoh dan malas, dan tanpa BD pun kita terasing karena sihat buruk kita. Bisa jadi. Jangan jadikan BD sebagai alasan atas semua kegagalan kita.

5. Kesan terakhir : cukup disini. I'm out. goodbye sosmed. Nampaknya sudah cukup disini. Gambaran besar insya Allah sudah aku dapatkan.
Dan komunitas berbasis sosmed, buat saya pribadi,  ini bila diteruskan menjadi toxic. 


Bagi saya, sosmed bermanfaat, asal secukupnya. Terimakasih kepada para voulenteer yang sudah membuat komunitas tersebut. Namun, semua itu ada batas cukupnya. Karena mengeluh itu addicted, curhat addicted, sampai lupa untuk menjadi manusia. 
Namun pengalaman di sosmed  semua itu tidak sia-sia, minimal mengembalikan rasa syukur Tuhan atas semua yang sudah saya miliki.

memang sosmed seperti pisau bermata dua untuk kami para ODB.


jakarta desember 2019.





Jumat, 06 Desember 2019

ME AND MY MENTAL ILLNESS # 6 GOOD FOOD GOOD MOOD

Mental Illnes, atau penyakit  kejiiwaan, dimula  dari ketidak seimbanngan  neurotransmitter di dalam  otak. Serotonine, dopamine dlsb. Otak itu  sendiri, hidup sebagai entitas yang dihidupi olah nutrisi yang berasal dari makanan yang kita makan. Dengan demikian jenis makanan, kualitas dan kuantitasnya sangat mempengaruhi kualitas kesehatan otak itu sendiri.
Good Food Good Mood. Namun nampaknya masalah nutrisi ini tida terlalu mendapat perhatian dari para psikatris. Mereka terlalu fokus oleh penggunaan obat obatan untuk menyelesaikan ketidak sehatan otak itu. Depresi diberi anti depresan. Manik diberi mood stab. Lalu bagaimana dengan wanita hamil, menyusui, dimana mereka tidak diperbolehkan minum obat. Disini terlihat ambigu dan paradoxnya. Ada beberapa teman komunitas ODB yang kebetulan menyusui, hamil menemui masalah ini. Singkatnya, ada kondisi  dimana obat bukanlah solusi.
Meditasi, SEFT, EFT, CBT atau apapun itu bisa menjadi  jalan pembantu. Dan banyak psikatris yg menyarankannya. Tapi jarang yang menyentuh  masalah nutrisi.
Aku sendiri , mulai belajar untuk makan secara bersih beberapa minggu ini. Sayur organik, buah, anti daging merah, anti guten, anti gula,tepung rfinasi.  Daging hanya ikan dan ayam. Nasi sedikit.
Terasa mulai sedikit ada stabilitas, walau tidak minum obat. Semoga bulan ini bisa stabil.

Jumat, 15 November 2019

ME AND MY MENTAL ILLNESS 5#ISOLATED

Undangan reuni itu datang lewat berbagai akun wa. Tapi aku reject. Bukankah seru, bertemu teman teman 25 tahun yang lalu. Apalagi dulu memang berbeda, aku aktif. Bahkan menjabat ketua kelas selama 2 tahun. Humoris, selalu lucu,seperti tak pernah susah.
Tapi sekarang aku sudah berbeda, maaf teman teman. Teman teman yg dulu mengisi kebahagian. Menghibur ku di saat hati terluka oleh seorang (my Dad) yg mulut dan tangannya ringan dan tajam. Disaat skripsiku macet, orang itu hanya bisa menghardik dan menghakimi, dan teman temanku yg membuatkan skripsiku. Aku berhutang budi kepada mereka, dan aku hanya bisa memblok akun wa mereka sekarang. Aku hanya berharap Allah mengampuniku dan membalas kebaikan mereka,teman temanku.
Beginilah seorang ODB, aku juga tidak bisa memahamiku sendiri. Masa laluku begitu tdk ingin kuingat. Ku ingin lupa. Maka kuucapkan SELAMAT TINGGAL REUNI.

Rabu, 06 November 2019

ME AND MY MENTAL ILLNESS #4.educate yourself

Educate Yourself

Dokter bisa memberimu obat, tetapi tidak bisa mengajarimu mengenal temanmu seumur hidup : bipolar.
Teman yang tidak perlu kita benci, tapi kita ajak bekerja sama. Membangun insight sangat perlu, agar dalam episode manic ataupun depresi, ada sedikit kesadaran yang terjaga.

Berapa buku dan audiobook yang sedang aku pelajari


  1. "Screw Bipolar Disorder(audiobook)", oleh Alice Lane : berisi trik untuk menghandle bipolar dan menjadi stabil, tanpa obat. ada 20 hal yang mesti disiplin dilakukan . rate : 4*
  2. "Bipolar Disorder 2 Workbook" , oleh Stephannie Mc Murrich. : berisi a sd Z tentang bipolar 2. rate 3*.
  3. "Preventing Bipolar Relapse", oleh Ruth C White :  cara mencegah relaps, mengurangi tingkat ledakan mood, bertahap mengurangi obat, ditulis oleh seorang PhD sekaligus ODB. rate 5*
  4. "Bipolar 2", oleh Heather Rose; berisi nutrisi untuk masing-masing kondisi episode. rate 3*
  5. "Man's Serach for Meaning", oleh Viktor Frankl : tidak berisi tentang bipolar tetapi mengajariku untuk menemukan makna dalam setiap penderitaan, seberat apapun, yang dikenal sebagai Logoteraphy. Rate 5*
  6. "I'm Not Crazy, Just Bipolar", oleh Wndy K : berisi kisah drama seorang penderita Bipolar, sayang aku kurang suka, cenderung mentrigger. rate 3*