Dan karena hukum alam itu pula, orang berlomba-lomba menjadi kuat. Mencari yang banyak. Mencari yang pinter. Suka tidak suka kita terhanyut dalam perlombaan itu. Ingat nasihat orang tua dulu: belajar yang pinter agar hidup nyaman. gaji besar dan tidak mudah ditipu orang lain....nah lho...
Apakah selalu demikian?
Ada sebuah cerita. Nenek saya dulu, selalu meminta untuk tiap minggu anak dan cucunya berkunjung. Jujur aja, dulu saya sebal. Senin sampe sabtu capek kuliah dan tugas...eh...minggu pengen istirahat seharian nengokin nenek. Acaranya....bosaaaaan banget. Cerita yang dulu2 (bisa diulang puluhan kali), cerita penyakit, trus nasehatnya panjaaang banget. eneg deh. Mau pulang cepet ga boleh. Tapi waktu protes ke ortu, no hope. Alasannya standard : kasihan, udah sakit-sakitan entar keburu meninggal jadi semua keinginan mesti diturutin.
Coba kalau sehat, belum tentu dia punya power untuk memaksa anak cucunya untuk stay tiap minggu di tempatnya khan.
Lihat aja pengemis dijalanan jakarta. Siapa yang dapat paling banyak. Yang paling cacat, yang paling kecil, yang gendong bayi. Gajinya jutaan bo (puluhan?).
Apa ini yang namanya keadilan Tuhan. Sangsi aku. Lebih dekat kepada sifat licik manusia untuk memanipulasi orang lain. Evil inside tepatnya. Ingat ortu, pas lagi muda apa ancamannya? Awas, tak tempeleng kowe! Lalu pas sakit-sakitan apa ancamannya? Aku mending mati aja..sambil nangis....(inget dulu diancam gt pas gak disetujui nikah)...ha..ha..
Untuk apa tulisan ini? Untuk jadi cermin.Mereka adalah kita 10 tahun lagi . Sehingga bisa menempa diri untuk tidak berlaku sewenang-wenang dalam kondisi kuat. Apalagi lemah.
Apalagi kepada mahluk titipan Tuhan.
Jakarta 10 mei 2011