Ini menceritakan kisah tentang ART di kantor kecil saya, yang bergaji satu juta perbulan. Dari penghasilannya kita sepakat bahwa kehidupannya termasuk pra sejahtera. Dia, sebut saja bu Enah, single parent, punya anak yang baru masuk SMP. Dengan kehidupan yang bisa dibilang miskin, bahkan untuk beli seragam sekolah saja harus hutang kiri kanan. Namun anaknya, punya suato obsesi atas suatu barang yang bukan dalam levelnya, yaitu sebuah laptop yang baru.
Sebetulnya, saya pernah memberikan beberapa barang yang sudah tidak terpakai di rumah, beberapa smartphone dan laptop. Tapi namanya barang bekas, laptop itu cukup jadul bahkan batereinya sudah loss jadi harus selalu tertancap di listrik. Tapi menurutku, sudah sangat memadai untuk anak SMP. Bisa belajar word, excel, powerpoint.
Tapi nampaknya belajar bukan prioritas anak itu, jadi ya laptop itu hanya buat main game, ya main game. Word, excel. powerpoint tidak tersentuh. Tapi ya terserah, milik dia mau diapakan.
Jadi benar benar tidak masuk di pikiran saya, bahwa anak tersebut cukup sering "menteror" ibunya untuk membelikan laptop yang baru. Yang batereinya masih joss, jadi bisa dibawa ke sekolah. saya bertanya , kenapa harus dibawa ke sekolah, apalagi di sekolah juga ada laboratorium komputer yang ada laptopnya cukup untuk sekelas (1 laptop berdua). Absurd.
Nampaknya, fungsi laptop dalam hal ini telah bergeser menjadi sarana pengangkat status. Mungkin dengan laptop yang dibawa ke sekolah, pandangan teman teman terhadap status ekonomi dan sosial menjadi berbeda. Karena ibu nya bingung, dan merasa bersalah, maka diputuskan ada rencana untuk mengambil cicilan laptop, sekaligus hutang ke kantor.
Saya tidak berkomentar banyak, cuma mengingatkan bahwa laptop bukanlah prioritas untuk anak SMP. Buku, tas, alat tulis, seragam dan gizi yang layak lebih penting. Tapi nampaknya Ibu itu sudah tidak bisa berpikir jenih. yang penting dapat hutangan , beli laptop. Masalah nanti hidup sehari harinya gimana, pikir nanti
Fenomena ini cukup mengusik hatiku, dan tipikal terjadi pada strata di bawah. Berbeda dengan orang miskin jaman ayah dan ibuku dulu. Jaman sekarang masyarakat miskin sudah sangat konsumtif. Apalagi bisa hutang, cicilan. Gadget gak mau kalah dengan yang mampu (ART tsb 10 thn yg lalu udah punya BB, disaat karyawan masih pakai feature phone). Justru masyarakat miskin yang sangat terpengaruh dengan perilaku konsumtif, mungkin dari TV, sinetron, infotainment, entahlah.
Kalau dulu masyarakat miskin berhutang buat bayar sekolah, sekarang berhutang buat gadget, langganan wifi, pasang AC , cicil motor sport....
Mungkinkah ini yang disebut kemiskinan struktural? Dan demografi kaya - miskin ini tidak bisa berputar kalau kondisinya demikian. So sad.
